Friday, December 22, 2006

LIburan ke Jkt

Horee..besok libur panjang....!
Nanti sore Ummi, Raihan & Mba Mut (*pengasuh Raihan) mau ke Jakarta ke tempat Abi Raihan. Biasanya tiap akhir pekan Abi Raihan yang ke Bdg... tapi karena besok Minggu Om Dendy (*teman baik Ummi & Abi) menikah, jadi kami yang ke Jkt...

Smoga perjalanan kami nanti lancar & kami selamat sampai tujuan. Amiiin.
Smoga saja jalanan ngga macet... Paling bete deh kalo dah kena macet..! Tapi...Jakarta gitu loohhh... mana pernah ngga macet?? Hehehe...
Read more »»  

Raihanku 5 bulan

Tak terasa Raihanku sekarang sudah besar... Hehehe... baru 5 bulan sih... Padahal sepertinya baru kemaren aku melahirkan :D Waktu rasanya cepat berjalan... Tak terasa ternyata tau2 dah jadi emak2... Udah punya buntut yang lucu & nggemesein...

Sekarang Raihan makin pinter & lumayan endut juga... BBnya 7,6 Kg lumayan juga kalo nggendong lama... Anaknya kayaknya bsk jadi anak yang ramah deh... Suka senyum sama siapa aja hehehe... Dan yang pasti Raihan bener2 jagoan kecilku...! Dia kecil2 cabe rawit.. bukan anak cengeng yang gampang nangis...

Tapi Sabtu lalu Raihan nangis2, sedih rasanya kalau Raihan nangis... :( Kmrn Raihan nangis karena abis imunisasi kakinya bengkak... Mungkin pegel2 abis disuntik kali ya? Selama 2 hari dia cuman diem bobo terlentang aja.. Aku sempet khawatir, kakinya sering aku kompres pakai air anget sambil diunyer2 agar bengkaknya cepet sembuh. Alhamdulillah hari ketiga pasca imunisasi Raihan dah kembali ceria lagi mulai gulang guling sambil ketawa- ketiwi & suka ngoceh lagi... Bahagianya hati ini melihat buah hatiku cerah ceria lagi.. :))
Read more »»  

Hari Ibu

"...Hanya rindu & doa buatmu
semoga kau tenang dan bahagia
agar syurga menjadi milikmu
bukan hanya di telapak kakimu..."

Penggalan nasyid Far East ini mengingatkanku pada almarhumah ibu... Ini adalah hari ibu, aku jadi kangen banget sama Ibu... Dari pagi tadi rumah dihiasi dg nasyid yang bertemakan Ibu.

Dulu klo pulang kampung ibu pasti selalu menyambutku dengan pelukannya, tak lupa pula ibu pasti dah menyediakan semua masakan pesananku... Sekarang semua sudah ngga akan aku temui lagi... Semua tinggal kenangan...kenangan yg selamanya akan terukir indah di hati.

Doa kami senantiasa untukmu Ibu...
Smoga Allah mengampuni semua dosa2 Ibu & memberikan tempat yang baik utk Ibu di sisi-Nya... Amiiin.

Oiya, ini tadi ada kiriman puisi dari Mas Catur via YM.. Katanya buah karya Emha Ainun Nadjib... Bagus banget... Air mata jadi pengen ngalir nich..! Selamat menikmati... Hiks...

"Ibumu adalah ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi jimat bagi rizki dan kebahagiaanmu "

Pejamkanlah mata,
Rasakan kedekatan cintanya
Sebab ketika itu Tuhan sendiri yang mengalir dalam kehangatan darahnya
Kalau ibunda membelai rambutmu
Kalau ibunda mengusap keningmu,memijiti kakimu
Nikmatilah dengan syukur dan batin yang bersujud

Kalau dari tempat yang jauh engkau kangen kepada ibunda
Kalau dari tempat yang jauh ibunda kangen kepada engkau
Dendangkanlah nyanyian puji-pujian untuk Tuhanmu
Karena setiap bunyi kerinduan hatimu
Adalah sebaris cinta Allah kepada segala ciptaan-Nya

Kalau engkau menangis
Ibundamu yang meneteskan airmata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya
Kalau engkau bersedih
Ibundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan

Menangislah banyak-banyak untuk ibundamu
Dan jangan bikin satu kalipun ibumu menangis karenamu
Kecuali engkau punya keberanian
Untuk membuat Tuhan naik pitam kepada hidupmu

Kalau ibundamu menangis,
Para malaikat menjelma jadi butiran-butiran airmatanya
Dan cahaya yang memancar dari airmata ibunda
Membuat para malaikat itu silau dan marah kepadamu
Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci
Sehingga Allah tak melarang mereka tatkala menutup pintu surga bagimu

Ibu kandungmu adalah ibunda kehidupanmu
Jangan sakiti hatinya, karena ibunda senantiasa akan memaafkanmu
Tetapi setiap pemaafan ibundamu atas setiap kesalahanmu
Akan digenggam erat-erat oleh para malaikat
Untuk mereka usulkan kepada Tuhan
Agar dijadikan kayu bakar nerakamu

"Salam hormat kami untuk semua para ibu.........."
Read more »»  

Selamat Hari Ibu...

"Kasih Ibu kepada beta,
Tak terhingga sepanjang masa..."

Selamat Hari Ibu ke-78


Izinkan Aku Menciummu, Ibu

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu
menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya
setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku 'dipaksa' membantunya memasak di pagi
buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.

Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua
pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri
juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal
dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku
selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena
aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang
tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih
ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang
dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang
mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu.
Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku
tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang
menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu.
Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.
Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama
teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika
ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang
dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya.
Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan
penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya
berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang
bersamanya. Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak
pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi
perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus
agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa
uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh
kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia
mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku
erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku
semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan
berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan
hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung
antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala
tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak
berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang
mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi
do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang
sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan
bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat
kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan
senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh
dikakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan
kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi
menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang
baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada
Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala
kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku
untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan
kasihmu kepadaku.

(Untuk Semua Ibu Di Seluruh Dunia)

**Ibu...aku kangen banget... Bagaimana cara utk mengobati rinduku ini???

Aku ingin memeluk ibu... aku ingin menciummu... aku rindu belaian kasihmu,Ibu...
Read more »»